Tulisannya Bu Shana..
Keluarga Mahasiswa ITB Milik Semua
Ide ini mungkin klise, tapi itu yang terjadi di kemahasiswaan kita. Sejak awal masuk ITB, kita diceritakan tentang betapa hebatnya peran mahasiswa, menjadi agen perubahan, cadangan masa depan, dan penjaga nilai, dan hal paling membanggakannya adalah ketika kita diberi kehormatan untuk menyandang gelar mahasiswa untuk berkiprah di kampus perjuangan.
Kehidupan kampus pun begitu menjanjikan. Ratusan organisasi mahasiswa mulai dari barisan himpunan hingga sebaran unit menjadi pusat-pusat perumusan ide, gagasan, dan aktualisasi diri yang menunjukkan betapa besarnya cita-cita untuk berkontribusi ke masyarakat dan Indonesia tercinta.
Sesimpel itu? Wah, ternyata kampus dinilai tidak lagi menjadi tempat yang asyik untuk menghabiskan waktu. Ceritanya, saya lebih memilih untuk karaokean di nav, nongkrong di ngopidoeloe, atau nonton bioskop di XXI.
Mahasiswa ITB butuh senang-senang, tapi dibalik itu, mahasiswa ITB butuh cita-cita. Tidak adanya lagi cita-cita yang ingin dicapai di kampus menjadikan ganesha 10 ini semakin redup saja dari hari ke hari. Masalah demi masalah berdatangan, mulai dengan rektorat yang menekan, kungkungan beraktivitas, kemahasiswaan terpusat yang tidak legitimate, dan sejumlah lainnya yang menjadikan anak itb malas berkarya. Tapi, itukah masalah sebenarnya?
ITB butuh dobrakan! Kita butuh keluar dari paradigma yang mengatakan bahwa kemahasiswaan itb hanya untuk orang-orang hebat saja. Kita harus menghancurkan tembok-tombak yang bertuliskan tidak ada tempat untuk orang-orang cerdas biasa. Saya biasa saja, tapi saya bangga jadi mahasiswa itb. Tapi bangga tidak cukup ternyata, karena ternyata potensi yang berlebih ini hanya akan menjadi berkah ketika dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak. Filosofi pengabdian masyarakat mungkin sesimpel rasa syukur atas kelebihan dan kemudian ingin membagi ke orang lain yang tidak memiliki kelebihan yang sama. Tuhan menciptakan kita tidak sempurna untuk kita paham akan kebutuhan bekerjasama. Ibarat tubuh, sejumlah manusia hanya memiliki mata, yang lain menjadi tangan, atau bahkan ada yang kebagian menjadi kuku, namun tubuh hanya berfungsi menjadi manusia sempurna ketika kesemua bagian tersebut berkolaborasi. Dan tubuh tersebut akan mampu memberi ketika sadar akan perannya sebagai manusia.
Sulitkah itb memiliki cita-cita bersama? Sulitkah itb menjadi rumah untuk semua? Sulitkah itb menjadi kawah candradimuka yang menyiapkan putra-putri terbaiknya untuk menjadi pilar bangsa?
Indonesia masa depan adalah Indonesia yang mandiri, berdaulat, adil dan makmur. Indonesia yang mandiri tidak dibangun dalam satu atau dua hari, bahkan satu atau dua tahun. Sebuah cita-cita besar, dimana 10-15 tahun lagi kita melihat negara ini bangkit dan bersinar, dan tebak : Kitalah pemain utamanya! Karena pastinya kita tidak ingin hanya duduk di bangku penonton saja.
Untuk itu, mulai saat ini juga marilah kita bergerak untuk mengenal, membangun, dan mengoptimalkan potensi yang kita miliki. Marilah kita mulai berlomba-lomba untuk berkontribusi dan berkolaborasi dalam rangka membangun Indonesia secara nyata. Saya, Kamu, Dia, Kalian, Mereka, dan Kita semua punya peran masing-masing yang harus diambil. Sekali lagi, peran itu harus diambil, bukan dianggurkan dan berharap dia akan datang dengan sendirinya. Kita memilih untuk menjadikan negara ini negara yang besar. Dan tentunya, negara ini tidak akan pernah besar jika bangsanya tidak berpikir besar. Tantangan kita sangat nyata, Indonesia yang mandiri hanya akan terwujud jika masyarakatnya pun berpikir dan berperilaku mandiri. Dan inilah yang akan kita bangun lewat Gerakan Kebangkitan Nasional KM ITB. Sebuah gerakan yang dimotori mahasiswa dengan prinsip kreatif, inovatif, terbuka, dimana kita bersama-sama elemen masyarakat membangun langkah-langkah menuju Indonesia yang mandiri.
Ternyata semua memiliki kesempatan yang sama. Ternyata idealisme hanya terbentuk ketika kita berbenturan kebenaran dengan lingkungan. Dan kita sadar bahwa lingkungan tidak akan pernah homogen. Dan kita akan menjadi sadar dan siap. Karena mengutip seorang teman, pertempuran kita sebenarnya di luar gerbang ganesha 10 sana. Kita memulai dengan menjadikan Keluarga Mahasiswa ITB benar-benar menjadi milik semua, dan dirasakan semua.
Dan kembali saya ingin bertanya padamu hai sahabat, siapkah untuk ikut bersama kami membawa perubahan revolusioner untuk ITB yang bersinar dan menyinari dunia? Dan kabar baiknya, kita tidak perlu menjadi orang lain untuk berkarya. Kita hanya perlu untuk menjadi diri sendiri.
Ayo menggagas dan berkarya!
Ayo tunjukkan warnamu pada dunia!
Ayo ajak semua untuk berlari bersama!
Ayo bergerak bersama-sama untuk Indonesia merdeka!
Shana Fatina Sukarsono
[Presiden KM ITB]
Disalin dari :agendaganesha@yahoogroups.com
- College | Time: 8:30 am (UTC+8) Comments (2)
